Home > Inspiring Story, Kisah Nyata > Ibuku, Malaikatku…

Ibuku, Malaikatku…

Kali ini aku akan menuliskan ulang sebuah kisah nyata (dari jutaan yang ada) mengenai our nearest angel, our mother.. Kisah ini kebetulan berasal dari Negeri Tirai Bambu, sebuah negara komunis yang sering kali kita asosiasikan dengan ‘negara tidak berprikemanusiaan’.. Dengan kisah ini, aku rasa kita juga bisa belajar untuk memahami bahwa setiap orang memiliki ‘sisi gelap’ dan ‘sisi terang’ di dalam diri mereka masing-masing.. Dan yang terpenting adalah di sisi mana kita memilih untuk berjalan, sisi apa yang akan lebih dominan..

Kisah ini datang dari Provinsi Sin Chuan.. Ini adalah kisah pahit yang muncul dari tragedi gempa bumi di provinsi tersebut.. Gempa bumi tersebut merobohkan sebuah rumah yang saat itu hanya dihuni seorang ibu dan bayinya berumur 3-4 bulan.. Ketika rumah tersebut roboh, bayi itu dilindungi oleh ibunya dengan tubuh miliknya sendiri.. Ia berlutut sujud di atas bayi. Ketika tim penolong tiba 5 hari kemudian, pada 17 Mei, mereka menemukan sang ibu telah hancur mati, tetapi bahwa bayi itu tidur nyenyak – hidup.. Tak lama kemudian mereka menemukan ponsel sang ibu.. Di ponsel tersebut, ia sempat menulis pesan teks untuk bayinya yang berbunyi:

“Bayiku sayang, jika kamu dapat bertahan hidup, selalu ingat bahwa aku mencintaimu.”






Kisah ini telah membuat dunia terentak.. Hampir semua orang yang pernah membaca kisah ini menangis haru menghormati perjuangan sang ibu menyelamatkan bayinya tersebut.. Banyak memang ibu-ibu muda dan calon-calon ibu zaman sekarang yang sering kita dengar melalui berita-berita di media massa ternyata tidak memiliki ‘kualifikasi’ seorang ibu yang sejati.. Ada yang membunuh anaknya bahkan sebelum anak tersebut terlahir ke dunia (baca: aborsi).. Ada yang menjual anaknya kepada orang lain, yang seringkali merupakan gembong human trafficking.. Ada yang suka menyiksa anaknya sendiri for no reason.. Ada yang merasa ‘iri’ kepada anaknya, bahkan di hari pertama anaknya tersebut dilahirkan (baca: baby blues).. Dan masih banyak contoh kisah-kisah tanpa kasih lainnya..

Sang ibu dalam kisah pertama ini adalah oase di padang gurun kita yang tandus.. Ia mengingatkan kita kembali akan arti seorang ibu.. Ia mengingatkan kita bahwa ibu kita memanglah malaikat terdekat yang Tuhan kirimkan untuk kita.. Mungkin ibu kita tidak melakukan hal yang sama dengan ibu dalam kisah diatas.. Tapi, bukankah ibu kita juga sama-sama berhadapan dengan kematian tatkala kita dilahirkan?? Kita dilahirkan melalui sebuah pilihan hidup dan mati, kawan.. Para ibu di dunia, dulu dan sekarang, memilih untuk melahirkan kita (klo aku sendiri lebih suka istilah asing: to give us birth) karena mereka memiliki pengharapan.. Mereka memiliki pengharapan bahwa masa depan kita (anak-anak yang akan mereka lahirkan) akan cemerlang.. Mereka tidak pernah menyerah kepada kita karena pengharapan mereka tersebut, bahkan di setiap detik yang menyiksa mereka ketika mereka mengandung kita sembilan bulan lamanya dan ketika mereka menghadapi persalinan..

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: